
Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi D.I. Yogyakarta meluncurkan PELITA, Pusat e-Learning Terpadu, di Aula Ki Hadjar Dewantara BBGTK DIY, Senin (18/5). PELITA diluncurkan secara resmi oleh Direktur Guru Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Dr. Drs. Rachmadi Widdiharto, M.A. Peluncuran kali ini dihadiri oleh 375 undangan yang terdiri dari seluruh UPT Kemendikdasmen wilayah DIY serta Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY, Dinas Pendidikan se-DIY serta Instruktur BBGTK DIY. PELITA merupakan sistem informasi terpadu pengelolaan pelatihan peningkatan kompetensi. PELITA menghadirkan pengalaman belajar yang fleksibel, terintegrasi dan adaptif terhadap kebutuhan masa depan guru, kepala sekolah, pendidik lainnya, tenaga kependidikan serta mitra lembaga.

Kepala BBGTK Provinsi. D.I. Yogyakarta, Dr. Adi Wijaya, S.Pd., M.A menyampaikan PELITA merupakan inovasi BBGTK DIY dalam memfasilitasi peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan di DIY. Meskipun sudah dibantu oleh instruktur dalam melaksanakan program, jika kegiatan dilakukan secara luring membutuhkan waktu yang lama dan anggaran yang besar. Sehingga PELITA hadir untuk memfasilitasi pelatihan dalam bentuk daring, luring maupun blended. “Banyak beberapa program peningkatan kompetensi bisa diakses di PELITA ini,” tambahnya. Salah satu yang sedang dikembangkan di PELITA adalah Smart MOOC untuk memenuhi kebutuhan guru dan tenaga kependidikan. Smart MOOC diharapkan dapat mewadahi kebutuhan pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan. “Sehingga bapak ibu guru yang ada di DIY tidak harus menunggu panggilan tapi dengan inisiatif sendiri untuk bisa memanfaatkan PELITA,” jelasnya.
Dr. Adi Wijaya, S.Pd., M.A juga menambahkan kedepannya di masing-masing kapanewon akan muncul data guru yang sudah mengikuti pelatihan. Sehingga kedepannya dapat BBGTK DIY serta pemangku kepentingan dapat memiliki data guru yang sudah dan belum mengikuti pelatihan. “Sehingga dalam mengembangan program kegiatan bisa betul-betul berbasis data,” jelasnya.

Direktur Guru Pendidikan Dasar, Dr. Drs. Rachmadi Widdiharto, M.A. mengapresiasi peluncuran PELITA oleh BBGTK DIY. PELITA bisa digunakan dalam menjawab tantangan di era digital. Selain itu, kondisi kultural dan geografis yang ada di Indonesia membutuhkan media pembelajaran digital. Sehingga akses pelatihan untuk meningkatkan kompetensi tidak menemui kendala. Beliau berharap PELITA bisa dikolaborasikan dengan Ruang GTK yang ada di Rumah Pendidikan. “Karena bisa diakses guru-guru di wilayah 3T, tertinggal, terpinggirkan, termarjinalkan, harapan kami keistimewaan yogya ini benar-benar menjadi istimewa dihati guru-guru yang lain,” harapnya.

Selain itu, pertunjukan drama musikal juga dihadirkan dalam kegiatan ini. Drama Muskikal “Terang yang Tercuri” mengisahkan sebuah desa yang dahulu makmur dan penuh semangat hidup, namun berubah menjadi sunyi, gelap, dilanda kekeringan dan kelaparan. Demi menyelamatkan desa, Pak Goro sebagai ketua desa bersama warga memulai perjalanan mencari jalan keluar dari kegelapan. Di tengah perjalanan, mereka bertemu seorang nenek misterius yang memberi pesan tentang Pelita Kencana di Puncak Sunyi, cahaya suci yang dipercaya mampu mengembalikan kehidupan desa. Namun, pelita itu hanya dapat dinyalakan oleh Raden Wijaya dan Ki Ageng Hastasura. Perjalanan penuh rintangan akhirnya membawa mereka menemukan Pelita Kencana dan membawanya pulang ke desa. Dengan cahaya pelita tersebut, harapan dan kehidupan perlahan kembali menyinari desa yang lama tenggelam dalam kegelapan.
