
Sleman, 1 September 2026 — 150 guru disiapkan mengikuti Pelatihan Pendidikan Inklusif (PPI) Tingkat Lanjut. Pelatihan ini sebagai upaya memperkuat kemampuan guru dalam mendampingi peserta didik yang membutuhkan penanganan khusus di satuan pendidikan. Salah satu program nasional tersebut disosialisasikan kepada Dinas Pendidikan provinsi, kabupaten/kota, serta Balai Pendidikan Menengah kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Rapat Koordinasi dan Evaluasi Peningkatan Kompetensi GTK Provinsi DIY di BBGTK DIY, Selasa, 1 September 2026.
PPI Tingkat Lanjut dirancang untuk membekali guru dengan kemampuan merancang dan melaksanakan pembelajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan beragam peserta didik. Program ini memiliki 86 jam pelajaran (JP), terdiri atas 28 JP pembelajaran sinkron dan 58 JP pembelajaran asinkron melalui pembelajaran daring terbimbing.
Materi pelatihan mencakup tiga tema utama. Tema pertama membahas perencanaan program pendidikan inklusif, termasuk perencanaan kurikulum dan pembelajaran inklusif. Tema kedua berfokus pada identifikasi kebutuhan fungsional dan asesmen. Sementara tema ketiga membekali peserta dengan strategi pengajaran berbasis bukti, pengembangan dan refleksi pembelajaran, serta lesson study.

Kepala BBGTK DIY, Dr. Adi Wijaya, S.Pd., M.A., mengatakan penguatan kompetensi guru menjadi penting agar satuan pendidikan mampu memberikan layanan kepada peserta didik yang membutuhkan penanganan khusus, terutama ketika belum tersedia guru yang memiliki kompetensi pendidikan inklusif.
“Pelatihan pendidikan inklusif agar guru bisa membersamai anak yang perlu penanganan khusus jika di satuan pendidikan belum ada guru yang memiliki kompetensi tentang pendidikan inklusif,” kata Adi.
Pelaksanaan program dijadwalkan memasuki tahap sosialisasi kepada peserta dan orientasi program pada 2–5 September 2026. Selanjutnya pembelajaran dimulai pada 7 September 2026. Rangkaian pelatihan berlangsung hingga Oktober, dilanjutkan dengan proses evaluasi dan penerbitan sertifikat sesuai lini masa program.

Peserta dibekali dengan pemahaman konsep pendidikan inklusif. Mereka juga dibekali dengan kemampuan menunjukkan keterampilan penerapan pembelajaran. Setelah pelatihan, peserta menyusun rencana tindak lanjut yang memuat aktivitas pascapelatihan.
Pemantauan implementasi juga melibatkan kepala sekolah, rekan sejawat, serta orang tua peserta didik penyandang disabilitas. Mekanisme tersebut menjadi bagian dari penjaminan mutu untuk melihat keterlaksanaan pembelajaran PPI Tingkat Lanjut sekaligus dampaknya setelah pelatihan.
Melalui rangkaian pelatihan tersebut, penguatan pendidikan inklusif diarahkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan guru, tetapi berlanjut pada perubahan praktik pembelajaran di satuan pendidikan. Luaran pelatihan mencakup kemampuan merencanakan pembelajaran inklusif, menerapkan strategi asesmen diagnostik, formatif, dan sumatif, serta menggunakan berbagai strategi pengajaran sesuai kebutuhan peserta didik.
Selain PPI Tingkat Lanjut, BBGTK DIY juga menyosialisasikan program peningkatan kompetensi tenaga kependidikan, pelatihan STEM untuk pendidikan dasar, serta program Hari Guru Nasional dan Apresiasi GTK. Penguatan kolaborasi dengan dinas pendidikan diarahkan untuk mengoptimalkan peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari persiapan program menuju 2027.
